Tampilkan postingan dengan label Fokus Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fokus Utama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Februari 2013

Yang Penting Esensinya


Banyak cara dilakukan Umat Islam untuk merayakan Maulid Nabi. Mulai dari acara yang paling sederhana sampai yang paling mewah. Untuk mengetahui apa hakikat Maulid dan bagaimana seharusnya Maulid itu dilaksanakan, kru Majalah Khidmah mewawancarai Habib Ja’far Shadiq, Pengurus PCNU Sumenep.

Menurut Habib, apa sebenarnya substansi perayaan Maulid?
Sebetulnya substansi Maulid itu banyak. Hanya, mengingat Maulid ini identik dengan seremoni yang berpuncak pada acara ceramah, maka substansi paling pokok adalah meneguhkan hati (tatsbit al-fu’ad). Ini sesuai dengan firman Allah Swt., Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu adalah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu (mâ nutsabbitu bihî fuâdak). Yakni, meneguhkan hati umat terhadap agama, baik menyangkut akidah, syariah, maupun akhlak.  
Kenapa tatsbit al-fu’ad yang menjadi titik tekan?
Karena, untuk meluruskan dan memantapkan hati kepada Allah bukan perkara gampang. Dan, musuh kita—baik berupa setan, jin, maupun manusia—merasa tidak nyaman ketika hati kita sudah lurus dan mantap kepada Allah. Sejatinya, esensi dari setiap acara (bukan hanya acara Maulid) mengacu kepada substansi itu.
Kenapa harus Nabi yang paling tepat dijadikan media untuk tatsbit al-fu’ad?
Ya, karena Nabi adalah blue print (cetak biru) dari alam semesta ini. Dengan segala tabiat dan akhlaknya yang sempurna, beliau adalah media yang luar biasa. Media bukan sembarang media. Karena itu, tidak sembarang orang juga yang mampu memanfaatkan media ini secara maksimal. Sosok yang luar biasa hanya bisa ditangkap oleh mereka yang luar biasa juga.
Bisa digambarkan kondisi fu’ad al-ummah saat ini?
Berbicara hati dan ruhani umat berarti berbicara hati kita. Dan, sebenarnya umat kita adalah ummah marhûmah, umat yang lembut. Kalau saat ini kita lihat mereka menjadi liar dan beringas, keluar dari kerangka (frame) berpikir atau mindset yang semestinya, itu bukan kesalahan mereka. Itu kesalahan kita, karena kita—selaku pemimpin—tidak memberi uswah atau teladan yang baik kepada mereka. Kata Imam Ghazali, jika pemimpinnya lurus, umat pasti ikut. Bagaimana bayangan akan lurus kalau batangnya bengkok?
Terus, apa yang harus kita lakukan?
Menurut saya, apa yang harus digarap pada hati umat saat ini adalah tazkiyah an-nafs, yaitu menyucikan hati dan menjernihkan ruhani. Allah berfirman, Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah.” Kalau hati sudah bersih, hidup akan terasa ringan dan nyaman. Selagi hati umat ini belum bersih, transformasi ilmu dan hikmah tidak akan terjadi. Dan untuk ini mereka harus diberi contoh teladan.
Esensi lain terkait dengan upaya menghidupkan ruhani umat ini adalah menghidupkan Nabi dalam hati kita. Jika kita benar-benar maksimal melaksanakan ajaran Nabi, beliau benar-benar akan hidup. Bukan hanya dalam mimpi, tapi dirasakan secara sadar (yaqzhatan wa manâman). Ini teori. Tapi tidak banyak orang sampai ke level itu. Namun saya tetap berpikir ini bisa kita lakukan. NU punya wadah untuk ini, yaitu Jam’iyah Thariqah al-Mu‘tabarah. Tapi, maaf, dengan segala hormat harus saya katakan bahwa kita kurang memberi porsi yang bagus untuk ini. Padahal, ini satu tahapan penting yang harus dilalui dalam dakwah kita.
Tapi dalam konteks ini, perayaan Maulid tetap esensial, kan?
Pasti. Perayaan Maulid tetap esensial dan merupakan cara terbaik untuk saat ini. Bayangkan, kalau tidak ada Maulid, bagaimana umat ini akan mengenal Nabi? Kalau tidak kenal, bagaimana akan meneladani? Jadi, acara Maulid tetap penting diadakan, meskipun dalam beberapa hal perlu diberi catatan. Misalnya, campur-baur antara laki-laki dan perempuan. Juga perlu dikoreksi mengenai target capaiannya.
Tadi disebutkan bahwa umat perlu keteladanan pemimpin. Kira-kira apa yang penting diteladankan pemimpin kepada umat?
Menurut saya ada dua, yaitu karakter kejujuran dan rasa malu kepada Allah. Malu karena kita maksiat kepada Allah. Malu karena kita tidak bisa melihat posisi kita sebagai manusia, lebih-lebih manusia yang menjadi teladan umat. Suatu saat, ketika Abdullah ibn Mas‘ud diikuti seseorang, ia bilang, “Jangan ikut aku. Tidak enak menjadi orang yang diikuti orang. Iya kalau benar, kalau salah?” Sementara sekarang, orang malah bangga kalau pengikutnya banyak.
Apakah dengan begitu, pemimpin kita sekarang tidak layak?
Saya tidak mengatakan begitu. Pemimpin kita tetap layak. Layak di zaman seperti sekarang. Dan kita sendirilah yang membuat zaman seperti ini. Sekali lagi persoalannya adalah tazkiyah al-nafs tadi. Menyinggung soal kiat sukses dakwah Walisongo, Habib Umar mengatakan bukâ’an fil al-layl wa basyâsyah fi al-nahâr; menangis di waktu malam, siangnya cukup tersenyum saja. Sekali mereka memukul gong, hati umat langsung bergetar. Kenapa begitu? Karena malamnya mereka menangisi umat. Kalau kita kan, tidak begitu. Kita lebih fokus pada gongnya, bukan pada menangisnya. Ada seorang habib di Makkah berdakwah ke Afrika. Ketika salah seorang ditanya kenapa ia masuk Islam, ia menjawab, “Karena aku suka melihat habib itu.” Nah, pertanyaannya, sudahkah pemimpin kita menangisi diri mereka sendiri?
Terakhir, kira-kira seperti apa format Maulid yang cocok untuk zaman kita saat ini?
Saya katakan situasional. Daerah-perdaerah bisa berbeda. Yang penting dalam format itu ada ta‘alluq (keterhubungan) antara kita selaku pemimpin dengan umat, sehingga proses tatsbit al-fu’ad dan tazkiyah al-nafs bisa berlangsung di sana. Bisa saja Maulid dilaksanakan dalam bentuk, misalnya, pengajian sederhana. Kalaupun ada yang mengatakan Maulid yang kita laksanakan itu bid’ah, yang dibid’ahkan bukan esensinya, tetapi formatnya. Yaitu, karena pada zaman Rasulullah SAW tidak ada orang yang berkumpul untuk merayakan kelahiran beliau. Esensinya sebetulnya adalah bagaimana kita bisa nyambung dan berinterkasi dengan beliau. Dan, ini sebeltulnya tidak cukup dilakukan setahun sekali. Sayyid Imam al-Maliki mengatakan, ‘Kami tidak memperingati Maulid hanya pada malam-malam tertentu. Setiap saat kita harus berusaha untuk terus berinteraksi dengan beliau.’ Yaitu, dengan mengerjakan syari’ah dalam arti, meneladani perilaku beliau, dan membaca shalawat. Tapi, perlu saya tegaskan bahwa format Maulid yang berjalan di tengah-tengah masyarakat kita saat ini masih relevan dan apresiatif. (Asa/Zbr)

Hukum Maulid Nabi



Sejak abad ke 3 Hijriyah, para ulama salafus shaleh telah terbiasa merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Para pemimpin dan masyarakat awam pun ikut memeriahkannya secara turun temurun. Namun akhir-akhir ini, muncul sekelompok Islam yang menyatakan bahwa tradisi Maulid adalah bid’ah karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW dan para shahabat. Mereka memakai dalil-dalil yang ditafsiri sendiri untuk menguatkan pendapatnya.


Isu masa lalu
Perbedaan pendapat tentang hukum Maulid sebenarnya sudah muncul sejak lama. Di antara ulama yang menentang peringatan Maulid adalah Tajuddin Umar ibn Ali al-Lakhami (penulis al-Maurid fi al-Kalam ala al-Maulid), Ibnu Qayyim al-Jauziyah, hingga Shalih ibn al-Utsaimin di masa sekarang.
Sedangkan ulama yang mendukung Maulid jumlahnya sangat banyak, di antaranya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani (773-852), Jalaluddin as-Suyuthi (849-911), Ibnu Hajar al-Haitami (909-974), Tajuddin Imam as-Subki, Imam an-Nasa’i, Abdullah ibn Ahmad, Imam al-Baihaqi, Muhammad bin Abbas, Abu Syamah al-Dimasyqi, Abul Khair ibn al-Jazari, Ibn Rajab al-Hanbali, Abu al-Khathab bin Dihyah al-Andalusi, Ibnu Jauzi, Ibnu Katsir, Abu Bakar ibn Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, Ahmad bin Zaini Dahlan, hingga Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.
Imam as-Syafi’i ra membagi hal-hal baru dalam agama (bid’ah) ke dalam 2 (dua) bagian: Pertama, hal baru yang bertentangan dengan Al-Quran, Sunnah, atsar, atau ijma’. Ini adalah bid’ah yang sesat; Kedua, hal baru yang baik dan tidak bertentangan dengan satu pun di antara rujukan hukum di atas. Ini adalah inovasi yang baik dan tidak tercela. Contohnya adalah penulisan Al-Qur’an, hadits, hingga pelaksanaan shalat tarawih dan Maulid Nabi. Meskipun belum pernah ada di masa Nabi SAW, akan tetapi tidak bertentangan dengan sunnah beliau.

Dalil kebolehan Maulid
Di antara dalil yang membolehkan Maulid adalah firman Allah Swt yang artinya: “Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” (QS. Ibrahim: 5). Menurut Ubay ibn Ka’b, yang dimaksud hari-hari Allah adalah nikmat-nikmat dan karunia-karuniaNya. Kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah salah satu nikmat yang maha agung. Sedangkan syariat memerintahkan kita untuk mengungkapkan rasa syukur atas nikmat dan karunia Allah Swt.
Dalil kedua adalah hadits yang mengisahkan peringatan Maulid yang dilakukan sendiri oleh Rasulullah SAW. Dalam hadits riwayat Imam Muslim tersebut, Rasulullah SAW ditanya tentang puasa Hari Senin yang dilakukannya. Beliau menjawab, “Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu aku mendapat wahyu”.
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi SAW bersuka cita akan hari kelahirannya, walaupun kegembiraan beliau diwujudkan dengan puasa. Sedangkan kita menunjukkan kegembiraan dengan cara mengumpulkan orang-orang untuk membaca Shalawat, membaca Al-Quran, memuji beliau, berzikir, dan bersedekah. Bentuknya berbeda tapi tujuannya sama.
Dalil ketiga adalah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Yakni saat Nabi SAW tiba di Madinah dan menemukan orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyura, beliau lalu menanyakan hal itu. Mereka menjawab, “Ini adalah hari di mana Fir’aun ditenggelamkan dan Musa diselamatkan oleh Allah. Maka kami berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah Swt.” Lalu Rasulullah bersabda, ”Kita (umat Islam) lebih berhak berpuasa (sebagai ungkapan rasa syukur).”
Menurut Ibnu hajar, hadits di atas menegaskan bahwa ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, seperti shalat, puasa, sedekah, membaca Al-Quran, dsb. Kelahiran Nabi Saw merupakan salah satu rahmat dan karunia yang paling pantas disyukuri.
Al-Hafizh Syamsuddin Ibnu Jauzi dalam ‘Urf Al-Ta’rif bi Al-Maulid Al-Syarif  menambahkan, dalam hadits shahih disebutkan bahwa Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa neraka setiap malam Senin karena ia memerdekakan Tsuwaibah sebagai bentuk kegembiraan atas kelahiran Nabi SAW. Jika Abu Lahab yang kafir saja mendapatkan keringanan siksa karena bersuka cita atas kelahiran Nabi SAW, apalagi seorang Muslim?
Kita merayakan kelahiran Nabi Muhammad Saw karena kita mencintainya. Seluruh alam semesta saja mencintainya, apalagi kita umatnya. Ingatlah hadits tentang pohon karma yang menyayangi dan mencintai Nabi Saw serta rindu untuk selalu dekat dengannya.

Media Dakwah
Selain sebagai ungkapan syukur, tradisi Maulid juga merupakan sarana dakwah, terutama di era millenium ini, di mana Kaum Muslimin berada di bawah hegemoni Barat. Perayaan Maulid dapat dijadikan sarana mengembalikan kejayaan Islam. Acara Maulid Nabi Saw bisa menjadi momen show of force (unjuk kekuatan) dan pengobar heroisme kaum Muslimin, layaknya Salahuddin Al-Ayyubi yang berhasil membangkitkan semangat Umat Islam guna mengusir tentara Salib dari Yerussalem.
Namun demikian, prosesi acara Maulid tidak perlu dilakukan secara berlebihan, termasuk saat memuji beliau. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda: Janganlah kamu berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji (Isa) putera Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka sebutlah (aku) sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda: “Wahai manusia, jauhilah sikap berlebihan dalam beragama, karena sesungguhnya sikap berlebihan telah menghancurkan umat-umat sebelum kamu.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad, dan lainnya.) (Sipe)

Menelusuri Tradisi Maulid di Nusantara


Tradisi Maulid Nabi masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya Islam ke Nusantara. Salah satu pelopornya adalah Wali Songo. Mereka menjadikan Maulid sebagai sarana menarik simpati masyarakat pribumi agar mengucapkan dua kalimat syahadat (masuk Islam). Karena itulah acara Maulid disebut Perayaan Syahadatain (dua kalimat syahadat), yang oleh lidah Jawa diucapkan Sekaten.
Dua kalimat syahadat dilambangkan dengan dua gamelan ciptaan Sunan Kalijaga, Kiai Nogowilogo, dan Kiai Gunturmadu, yang ditabuh di halaman Masjid Demak. Sebelum menabuh gamelan, orang-orang yang baru masuk Islam terlebih dulu memasuki pintu gerbang “pengampunan” yang disebut gapura (diambil dari Bahasa Arab “ghafara”, artinya “Allah mengampuni”). Setelah itu mereka dipandu mengucapkan dua kalimat syahadat.
Pada masa kesultanan Mataram, perayaan Maulid Nabi disebut Grebeg Mulud. Grebeg artinya mengikuti, yaitu mengikuti ulama dan sultan keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid. Tradisi tersebut terus bertahan hingga sekarang.

Pernak-Pernik Maulid
Kini, Maulid Nabi sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional. Peringatan Maulid dilakukan oleh Pemerintah, organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, majelis ta’lim, masjid, mushalla, hingga masyarakat kecil di pelosok desa. Berbagai acara digelar, mulai dari pengajian hingga bakti sosial, mulai dari diskusi hingga ritual bermuatan tradisi lokal. Dalam tradisi maulid terdapat tiga dimensi yang saling berkelindan; dimensi keagamaan, dimensi sosial, dan dimensi kebudayaan.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, upacara Sekaten warisan Wali Songo tetap dipertahankan. Sedangkan di Surakarta (Solo), acara Grebeg Mulud peninggalan Kerajaan Mataram juga dilestarikan.
Di Garut, terdapat upacara Ngalungsur, yaitu proses pembersihan barang-barang pusaka peninggalan Sunan Rohmat (Sunan Godog/Kian Santang). Di Cirebon terdapat tradisi Panjang Jimat, yakni acara pembacaan mada'ih nabawiyah, shalawat ad-Diba'i dan al Barzanji, juga pemberian sedekah dan makanan khas daerah serta pembukaan pasar kaget dan pertunjukan kebudayaan lokal.
Di Kalimantan, Maulid Nabi disebut dengan Ba’ayun, yaitu upacara pembacaan do’a dan shalawat Nabi sambil mengayun anak kecil.
Di Aceh, terdapat tradisi Kanduri Mulod yang dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan, yaitu Rabiul Awwal sebagai Mulod Awai, Rabiul Akhir atau Mulod Teungoh, dan Jumadil Awwal yang diistilahkan Mulod Akhe. Sedangkan di Sumatera Barat, setiap tanggal 12 Rabiul Awwal umat Islam berziarah ke makam Syekh Burhanuddin. Ini merupakan perlambang kecintaan masyarakat kepada ulama yang merupakan pewaris para Nabi.

Maulid di Madura
Masyarakat Madura menyebut Peringatan Maulid dengan “Mulodhan”. Mulodhan dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi pertama disebut Molodhan Agung, yakni peringatan Maulid secara massal dengan berkumpul di masjid sambil membaca sejarah nabi, shalawat Diba’i atau Barzanji, dan diakhiri dengan ceramah agama.
Sesi kedua disebut Mulodhan Kene’, yakni acara Maulid di masing-masing rumah penduduk (termasuk keluarga termiskin sekalipun). Yang diundang adalah kerabat dan tetangga dekat, dengan harapan agar rumahnya dikunjungi oleh Rasulullah SAW dan mendapat syafaat di hari kiamat kelak. Masyarakat percaya bahwa rumah yang dibacakan shalawat akan terbebas dari bahaya, seperti kebakaran, pencurian, kefakiran, dll.
Selain itu, di beberapa daerah pesisir Pulau Madura, terdapat tradisi Petik Laut (Sedekah Laut), yang merupakan bagian dari peringatan Maulid khas pesisir. Tradisi ini mirip upacara larung sekaten di Jogjakarta.
Selain bertujuan mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran Nabi SAW dan ingin mendapat syafaat beliau, peringatan Maulid di Madura juga merupakan perlambang dari persatuan dalam keragaman. Hal itu tercermin dari beragam jenis buah-buahan dan makanan yang disuguhkan dalam acara. Juga sebagai sarana menjalin silaturrahim dan memupuk kebersamaan dengan mengundang kerabat dan tetangga dekat.
Meskipun akhir-akhir ini tradisi Molodhan Kene’ lebih banyak diadakan oleh masyarakat kelas menengah ke atas, namun semiskin-miskinnya orang Madura tak akan pernah meninggalkan upacara maulid, minimal membacakan shalawat di rumah. Dengan begitu, buncahan kegembiraan menyambut datangnya Maulid benar-benar lahir dari jiwa yang ingin meneladani akhlak Rasulullah SAW. (Zbr)

Menjelajah Sejarah Maulid



Tradisi Maulid Nabi sudah berjalan sekitar 12 abad. Kaum Muslimin di seluruh dunia memperingati kelahiran Sang Nabi guna mengenang, mengingat, mengucapkan terima kasih, dan meneladani kehidupan beliau. Secara umum, ada 4 (empat) periode sejarah Maulid Nabi dari masa ke masa.

Periode Pertama dan Kedua
Periode pertama dimulai pada masa Khalifah Mu’iz li Dinillah dari Dinasti Fathimiyyah di Mesir (341 H.). Pada masa itu, peingatan Maulid hanya ditujukan untuk mendapatkan simpati rakyat, sehingga sempat dilarang oleh penerus Mu’iz li Dinillah, yaitu Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy.
Kemudian, pada masa Khalifah Amir li Ahkamillah (tahun 524 H.), perayaan Maulid dihidupkan kembali dan bertahan hingga masa khalifah terakhir Dinasti Fatimiyah, al-Adhidh Lidinillah (567 H/ 1171 M ).
Periode kedua adalah ketika Shalahuddin al-Ayyubi menguasai Mesir. Pada masa itu, dunia Islam sedang mendapat gelombang serangan dari bangsa Eropa (Prancis, Jerman, Inggris, Italia), yang dikenal dengan Perang Salib (The Crusade). Umat Islam kehilangan semangat perjuangan (jihad) dan persaudaraan (ukhuwah), karena terpecah-belah dalam banyak kerajaan.
Salahuddin al-Ayyubi ingin sekali membangkitkan semangat umat Islam. Berbagai cara dilakukan, salah satunya dengan mengembangkan tradisi Maulid. Sultan Salahuddin meminta persetujuan Khalifah An-Nashir di Bagdad, dan khalifah setuju. Maka pada bulan Zulhijjah 579 Hijriyah (1183 Masehi), Salahuddin al-Ayyubi mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar saat kembali ke kampung halaman masing-masing mengadakan Maulid Nabi, setiap tanggal 12 Rabiul-Awwal.
Sultan Salahuddin sendiri menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi tahun 580 H. (1184 M.). Para ulama dan sastrawan diundang mengikuti kompetisi. Pemenangnya adalah Syeikh Ja`far al-Barzanji, yang kitabnya sampai sekarang masih sering kita baca.
Usaha Salahuddin al-Ayyubi membuahkan hasil. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali, sehingga pada tahun 1187 (583 Hijriah), Yerusalem dan Masjid al-Aqsa berhasil direbut dari bangsa Eropa.
Peringatan Maulid Nabi juga digelorakan oleh Gubernur Muzhaffaruddin Abu Said Qukburi  (549 H. – 630 H.). Peringatan Maulid dijadikan acara resmi kota Arbil (Irak). Beliau mengundang para ulama, menteri, pegawai, dan rakyat jelata, dalam acara yang dilaksanakan selama 7 hari 7 malam. Gubernur juga menyediakan hidangan 5 ribu kambing guling, 10 ribu ayam, 100 ribu keju, dan 30 ribu piring kue. Biaya yang dikeluarkan sebesar 300 ribu Dinar.
Sementara di Kota Mosul, Irak, seorang ulama sufi Abu Hafsh Mu’ainuddin Umar bin Muhammad bin Khidir al-Ibrili al-Mousuli (570 H), mempelopori peringatan Maulid Nabi di kalangan ulama.

Periode Ketiga dan Keempat
Periode ketiga adalah masa dimana para ulama mulai menuliskan kitab-kitab Maulid. Kebiasaan ini berkembang sejak pertangahan abad ke 7 Hijriyah. Di antara para penulis terkenal adalah Ibn Dahiyyah (w. 633 H), Muhyiddin Ibnul Arabi (w. 638 H), Ibnu Thugharbek (w.670 H), dan Ahmad al-’Azli bersama putranya Muhammad (w.677 H).
Peringatan Maulid terus bertahan hingga Mesir dikuasai oleh Dinasti Mamalik (tahun 922 H), di bawah pimpinan Khalifah Qanshuh al-Ghauri. Satu tahun berikutnya (923 H), ketika Dinasti Turki Utsmani memasuki Mesir, mereka meniadakan peringatan Maulid. Namun setelah itu muncul kembali dan terus bertahan hingga abad modern.
Periode keempat (abad Millenium), peringatan Maulid Nabi tetap dilaksanakan oleh banyak Negara, baik yang berpenduduk mayoritas Muslim seperti Mesir, Irak, Iran, Indonesia, ataupun negara yang pemeluk Islamnya bukan mayoritas seperti India, Britania Raya (Inggris dan Irlandia), Rusia, Kanada, hingga Amerika Serikat. Satu-satunya negara berpenduduk mayoritas Muslim yang tidak menjadikan Maulid sebagai hari libur nasional adalah Arab Saudi.
Yang perlu dicatat, meskipun para penguasa menggelar acara Maulid dengan menyuguhkan hidangan mewah dan melimpah, namun bagi masyarakat umum hal itu tidak perlu. Di samping tidak ditelandankan oleh Nabi, juga tidak dibenarkan oleh agama. (Doer/Sipe).