Selasa, 12 Februari 2013

Menelusuri Tradisi Maulid di Nusantara


Tradisi Maulid Nabi masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya Islam ke Nusantara. Salah satu pelopornya adalah Wali Songo. Mereka menjadikan Maulid sebagai sarana menarik simpati masyarakat pribumi agar mengucapkan dua kalimat syahadat (masuk Islam). Karena itulah acara Maulid disebut Perayaan Syahadatain (dua kalimat syahadat), yang oleh lidah Jawa diucapkan Sekaten.
Dua kalimat syahadat dilambangkan dengan dua gamelan ciptaan Sunan Kalijaga, Kiai Nogowilogo, dan Kiai Gunturmadu, yang ditabuh di halaman Masjid Demak. Sebelum menabuh gamelan, orang-orang yang baru masuk Islam terlebih dulu memasuki pintu gerbang “pengampunan” yang disebut gapura (diambil dari Bahasa Arab “ghafara”, artinya “Allah mengampuni”). Setelah itu mereka dipandu mengucapkan dua kalimat syahadat.
Pada masa kesultanan Mataram, perayaan Maulid Nabi disebut Grebeg Mulud. Grebeg artinya mengikuti, yaitu mengikuti ulama dan sultan keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid. Tradisi tersebut terus bertahan hingga sekarang.

Pernak-Pernik Maulid
Kini, Maulid Nabi sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional. Peringatan Maulid dilakukan oleh Pemerintah, organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, majelis ta’lim, masjid, mushalla, hingga masyarakat kecil di pelosok desa. Berbagai acara digelar, mulai dari pengajian hingga bakti sosial, mulai dari diskusi hingga ritual bermuatan tradisi lokal. Dalam tradisi maulid terdapat tiga dimensi yang saling berkelindan; dimensi keagamaan, dimensi sosial, dan dimensi kebudayaan.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, upacara Sekaten warisan Wali Songo tetap dipertahankan. Sedangkan di Surakarta (Solo), acara Grebeg Mulud peninggalan Kerajaan Mataram juga dilestarikan.
Di Garut, terdapat upacara Ngalungsur, yaitu proses pembersihan barang-barang pusaka peninggalan Sunan Rohmat (Sunan Godog/Kian Santang). Di Cirebon terdapat tradisi Panjang Jimat, yakni acara pembacaan mada'ih nabawiyah, shalawat ad-Diba'i dan al Barzanji, juga pemberian sedekah dan makanan khas daerah serta pembukaan pasar kaget dan pertunjukan kebudayaan lokal.
Di Kalimantan, Maulid Nabi disebut dengan Ba’ayun, yaitu upacara pembacaan do’a dan shalawat Nabi sambil mengayun anak kecil.
Di Aceh, terdapat tradisi Kanduri Mulod yang dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan, yaitu Rabiul Awwal sebagai Mulod Awai, Rabiul Akhir atau Mulod Teungoh, dan Jumadil Awwal yang diistilahkan Mulod Akhe. Sedangkan di Sumatera Barat, setiap tanggal 12 Rabiul Awwal umat Islam berziarah ke makam Syekh Burhanuddin. Ini merupakan perlambang kecintaan masyarakat kepada ulama yang merupakan pewaris para Nabi.

Maulid di Madura
Masyarakat Madura menyebut Peringatan Maulid dengan “Mulodhan”. Mulodhan dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi pertama disebut Molodhan Agung, yakni peringatan Maulid secara massal dengan berkumpul di masjid sambil membaca sejarah nabi, shalawat Diba’i atau Barzanji, dan diakhiri dengan ceramah agama.
Sesi kedua disebut Mulodhan Kene’, yakni acara Maulid di masing-masing rumah penduduk (termasuk keluarga termiskin sekalipun). Yang diundang adalah kerabat dan tetangga dekat, dengan harapan agar rumahnya dikunjungi oleh Rasulullah SAW dan mendapat syafaat di hari kiamat kelak. Masyarakat percaya bahwa rumah yang dibacakan shalawat akan terbebas dari bahaya, seperti kebakaran, pencurian, kefakiran, dll.
Selain itu, di beberapa daerah pesisir Pulau Madura, terdapat tradisi Petik Laut (Sedekah Laut), yang merupakan bagian dari peringatan Maulid khas pesisir. Tradisi ini mirip upacara larung sekaten di Jogjakarta.
Selain bertujuan mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran Nabi SAW dan ingin mendapat syafaat beliau, peringatan Maulid di Madura juga merupakan perlambang dari persatuan dalam keragaman. Hal itu tercermin dari beragam jenis buah-buahan dan makanan yang disuguhkan dalam acara. Juga sebagai sarana menjalin silaturrahim dan memupuk kebersamaan dengan mengundang kerabat dan tetangga dekat.
Meskipun akhir-akhir ini tradisi Molodhan Kene’ lebih banyak diadakan oleh masyarakat kelas menengah ke atas, namun semiskin-miskinnya orang Madura tak akan pernah meninggalkan upacara maulid, minimal membacakan shalawat di rumah. Dengan begitu, buncahan kegembiraan menyambut datangnya Maulid benar-benar lahir dari jiwa yang ingin meneladani akhlak Rasulullah SAW. (Zbr)